Tahun ini giliran Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, menerima bantuan dari Pemprov Sulsel untuk prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan sebesar Rp5,6 miliar. Selain itu Pemprov juga mengucurkan bantuan program pemberdayaan petani senilai Rp2,8 miliar dan bantuan pengembangan koperasi daerah senilai Rp50 juta serta bantuan sarana budi daya kelautan dan perikanan senilai Rp1 miliar.
Bantuan tersebut diserahkan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang pada pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke VIII/2011 tingkat provinsi di lapangan Pemuda Bulukumba, Rabu (4/5).
Terkait pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong, Wakil Gubernur mengatakan, gotong royong adalah budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulsel yang memiliki semangat, nilai dan makna yang universal.
Menurut dia, budaya gotong royong tidak akan memudar namun justru melakukan penyesuaian bentuk sesuai dengan perkembangan zaman.
"Gotong royong harus tetap dipertahankan sebagai sebuah budaya di tengah masyarakat serta menjadi media pembangunan di era kekinian dari segenap unsur pemerintah dan masyarakat," jelasnya.
Wagub menambahkan, bentuk-bentuk gotong royong khususnya di daerah perkotaan tidak lagi identik dengan membuat jalan, membersihkan kampung dan sebagainya, tetapi lebih dipahami sebagai sikap solidaritas, asosiasi, kesetiakawanan sosial dan pengelompokan diri dalam bentuk komunitas.
Senin, 16 Mei 2011
Warga Bontobahari Tetap Blokir Jalan
Ribuan warga Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, tetap memblokir jalan trans Sulawesi. Warga menutup ruas jalan tersebut dengan merentangkan kain sepanjang 100 meter dan menanam pohon pisang ditengah jalan yang berlubang, Senin (9/5).
Warga juga menggunakan bambu dan jaring nelayan untuk memalang jalan agar kendaraan baik roda dua hingga roda empat tidak dapat melewati jalan tersebut.
Aksi warga tetap menuntut Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo agar merealisasikan janji-janjinya tiga tahun lalu kepada warga namun sampai saat ini, jalan yang merupakan akses wisata internasional itu tak kunjung diperbaiki.
Akibat aksi blokir jalan, Minggu kemarin, mobil Bupati Selayar terjebak di antara kerumunan massa. Bupati Selayar menolak untuk memberikan orasinya di depan ribuan warga yang sedang berunjuk rasa, terkait perbaikan jalan. Kendaraan yang ditumpangi Bupati Selayar dengan plat merah bernomor polisi DD 1 J ini terpaksa harus mencari jalan alternatif agar bisa keluar dari kerumunan warga yang telah menutup jalan sepanjang tiga kilo meter.
Warga juga menggunakan bambu dan jaring nelayan untuk memalang jalan agar kendaraan baik roda dua hingga roda empat tidak dapat melewati jalan tersebut.
Aksi warga tetap menuntut Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo agar merealisasikan janji-janjinya tiga tahun lalu kepada warga namun sampai saat ini, jalan yang merupakan akses wisata internasional itu tak kunjung diperbaiki.
Akibat aksi blokir jalan, Minggu kemarin, mobil Bupati Selayar terjebak di antara kerumunan massa. Bupati Selayar menolak untuk memberikan orasinya di depan ribuan warga yang sedang berunjuk rasa, terkait perbaikan jalan. Kendaraan yang ditumpangi Bupati Selayar dengan plat merah bernomor polisi DD 1 J ini terpaksa harus mencari jalan alternatif agar bisa keluar dari kerumunan warga yang telah menutup jalan sepanjang tiga kilo meter.
Pemkab Bulukumba Rencanakan Pembangunan Mall

Rencana pembangunan Mal yang berlokasi di jalan Sam Ratulangi Bulukumba dijamin oleh Pemkab Bulukumba tidak akan merugikan pedagang kecil dan tidak akan menjadi saingan bagi pedagang lainnya, karena segmen dan jenis usahanya berbeda.
Mal nantinya akan mengelola usaha Makanan siap saji atau yang dikenal dengan KFC (Kentucky Fried Chicken), arena permainan anak (Amazone), Gelael dan Optik, sehingga barang dan jasa yang ditawarkan tidak sama dengan usaha yang dikelola para pedagang sekitarnya.
Investor yang akan mengelola Mal telah mempresentasikan rencana pembangunan dan pengelolaannya sehingga Pemkab menilai pembangunan Mal tersebut bukan menjadi saingan pedagang yang ada disekitarnya.
Lokasinya juga berada di kawasan perdagangan, jadi konsepnya berada dalam kawasan yang sesuai dengan rencana tata ruang Kabupaten Bulukumba.
Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan melalui Kabag Humas dan Protokol Daud Kahal mengungkapkan hal itu, menanggapi adanya keluhan dan kekhawatiran beberapa kalangan terhadap keberadaan Mal tersebut nantinya.
"Sebenarnya kita patut merespon positif jika di Bulukumba ada Mal, karena selain akan memancing masuknya orang-orang dari luar Bulukumba untuk berbelanja, juga akan menyerap banyak tenaga kerja, otomatis akan mengurangi pengangguran di Bulukumba" kata Daud di Bulukumba, Sabtu (14/5).
Daud memaparkan, sebuah daerah yang maju tentu indikatornya adalah hadirnya tempat atau pusat perbelanjaan modern, ini yang belum ada di bulukumba padahal daerah ini adalah kawasan andalan dan menjadi pusat pengembangan wilayah di selatan Sulawesi Selatan. Daerah ini juga perlu merespon masuknya banyak investasi sehingga bisa berkembang lebih pesat dan jangan justru dianggap momok. Mari kita realistis melihat untuk Bulukumba yang lebih maju kedepan, imbuhnya.
Lagu 'Phinisi Nusantara' Riza Usman Perkenalkan Letak Bulukumba
Penyanyi lagu daerah Bugis Makassar kelahiran Bulukumba, Riza Usman kembali menggeber single terbaru. Berbeda dengan lagu-lagunya yang lain yang berlirik bahasa Bugis, Makassar maupun Konjo, kali ini Riza menawarkan single berlirik bahasa Indonesia berjudul Phinisi Nusantara.
Lagu Phinisi Nusantara dikemas dalam irama reggae-pop dan sentuhan etnic music. Lirik dan aransemen lagu digarap sendiri oleh Riza. Lagu ini bercerita tentang Phinisi Nusantara yang sejak zaman purba telah melanglang buana ke seantero dunia. Namun secara tidak langsung beberapa bagian pada lirik lagu ini memperkenalkan letak geografis Bulukumba.
"Sebenarnya dunia luar itu lebih banyak tahu Phinisi maupun nama Bira yang merupakan ikon Bulukumba. Namun kenyataannya nama Bulukumba sendiri kurang mereka kenal. Sementara Phinisi, Ammatowa, Bira dan lain-lainnya itu adalah bagian dari Bulukumba," kata Riza saat kepada RCAmusicnews di Bulukumba, Kamis (12/5).
Riza mengungkapkan, lagu ini secara khusus didedikasikan untuk Bulukumba. Riza berharap, lagu ini bisa menambah perbendaharaan khazanah karya musik anak negeri khususnya musik lokal namun bisa go nasional dan membantu promosi wisata di Bulukumba ke dunia luar. Meskipun menurut pengakuannya, sebagai awal, dana pribadi digunakan Riza untuk menutupi produksi dan distribusi lagu ini sebab single ini diproduksi secara independen (indie) alias tidak berada di bawah naungan major label sebagaimana album-albumnya yang terdahulu.
"Kalau ada pihak-pihak lain yang mau membantu pendanaannya..wah saya sangat welcome. Itung-itung ini merupakan sumbangsih kita kepada Bulukumba," kata Riza.
Lagu ini ternyata langsung direquezt oleh puluhan pendengar di RCA 102,5 FM sejak diputar pertama kali sebagai new entry pada Selasa siang (10/5) sebagai selingan dalam program news, Trend RCA.
Pada bulan April 2011 Riza meluncurkan album bertajuk Anging Bangngi . Riza yang sebelumnya memakai nama Amby S. kini 'ganti kulit' menjadi Riza Usman. Sebelumnya penyanyi yang populer dengan lagu Cabbondeng-Bondeng ciptaan Anci Laricci pada 2008 ini telah memiliki tiga album dalam bentuk kompilasi bersama penyanyi daerah lainnya.
Pada sekitar awal tahun 2010, Riza pernah menelurkan album bertajuk Lagu-lagu Daerah Konjo di bawah naungan Jansen Records berisi sepuluh lagu berlirik bahasa Konjo yang sebahagian besar ciptaan sendiri. Kala itu Riza masih menggunakan nama Amby S. Lagu-lagu Konjo milik Riza yang akrab bagi masyarakat Bulukumba saat itu adalah lagu-lagu seperti Ikau To'ji, Ballo To'ji Kelong Konjoa dan A'ra' Anrong Ammangku.
Lagu Phinisi Nusantara dikemas dalam irama reggae-pop dan sentuhan etnic music. Lirik dan aransemen lagu digarap sendiri oleh Riza. Lagu ini bercerita tentang Phinisi Nusantara yang sejak zaman purba telah melanglang buana ke seantero dunia. Namun secara tidak langsung beberapa bagian pada lirik lagu ini memperkenalkan letak geografis Bulukumba.
"Sebenarnya dunia luar itu lebih banyak tahu Phinisi maupun nama Bira yang merupakan ikon Bulukumba. Namun kenyataannya nama Bulukumba sendiri kurang mereka kenal. Sementara Phinisi, Ammatowa, Bira dan lain-lainnya itu adalah bagian dari Bulukumba," kata Riza saat kepada RCAmusicnews di Bulukumba, Kamis (12/5).
Riza mengungkapkan, lagu ini secara khusus didedikasikan untuk Bulukumba. Riza berharap, lagu ini bisa menambah perbendaharaan khazanah karya musik anak negeri khususnya musik lokal namun bisa go nasional dan membantu promosi wisata di Bulukumba ke dunia luar. Meskipun menurut pengakuannya, sebagai awal, dana pribadi digunakan Riza untuk menutupi produksi dan distribusi lagu ini sebab single ini diproduksi secara independen (indie) alias tidak berada di bawah naungan major label sebagaimana album-albumnya yang terdahulu.
"Kalau ada pihak-pihak lain yang mau membantu pendanaannya..wah saya sangat welcome. Itung-itung ini merupakan sumbangsih kita kepada Bulukumba," kata Riza.
Lagu ini ternyata langsung direquezt oleh puluhan pendengar di RCA 102,5 FM sejak diputar pertama kali sebagai new entry pada Selasa siang (10/5) sebagai selingan dalam program news, Trend RCA.
Pada bulan April 2011 Riza meluncurkan album bertajuk Anging Bangngi . Riza yang sebelumnya memakai nama Amby S. kini 'ganti kulit' menjadi Riza Usman. Sebelumnya penyanyi yang populer dengan lagu Cabbondeng-Bondeng ciptaan Anci Laricci pada 2008 ini telah memiliki tiga album dalam bentuk kompilasi bersama penyanyi daerah lainnya.
Pada sekitar awal tahun 2010, Riza pernah menelurkan album bertajuk Lagu-lagu Daerah Konjo di bawah naungan Jansen Records berisi sepuluh lagu berlirik bahasa Konjo yang sebahagian besar ciptaan sendiri. Kala itu Riza masih menggunakan nama Amby S. Lagu-lagu Konjo milik Riza yang akrab bagi masyarakat Bulukumba saat itu adalah lagu-lagu seperti Ikau To'ji, Ballo To'ji Kelong Konjoa dan A'ra' Anrong Ammangku.
Minggu, 15 Mei 2011
Pentingnya Investasi dalam Mendorong Akselerasi Pembangunan di Kabupaten Bulukumba

Oleh : Muh. Daud Kahal
Kabag Humas dan Protokol Setda Kab. Bulukumba)
Kabupaten Bulukumba sebagai pusat pengembangan kawasan di selatan Sulawesi-Selatan tentu memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang lebih jauh kedepan.
Selain karena berbagai keunggulan diberbagai sektor khususnya pertanian, juga menjadi salah satu tujuan wisata di Sulawesi-Selatan. Selain itu sebagai salah satu jalur transportasi laut dan darat karena letaknya yang strategis, juga karena daerah ini telah memiliki infrastruktur yang diharapkan menjadi prasyarat dari berbagai aktivitas masyarakat. Meskipun dalam banyak hal infrastruktur tersebut butuh pembenahan dan perbaikan sehingga bisa lebih refresentatif dalam rangka kelancaran dan kenyamanan para penerima manfaat atau masyarakat.
Tidak dapat dipungkiri, pertumbuhan ekonomi Kab. Bulukumba yang cukup tinggi dibanding rata-rata kabupaten/kota di Sulsel (pernah mencapai 8,06%) telah menampakkan tingkat kemajuan yang berarti, ini bisa dilihat dari rata-rata capaian dari berbagai indikator berdasarkan statistik yang ada, baik Pertumbuhan Ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto, Income Perkapita dan Indeks Prestasi Manusia yang berkembang dinamis diatas rata-rata kabupaten/kota di Sul-sel.
Fakta yang bisa dilihat adalah angka penjualan kendaraan bermotor yang cukup besar yang menurut data dari dealer, Bulukumba menempati urutan kedua di Sulsel setelah Makassar, serta daftar tunggu calon Jama'ah Haji yang sudah mencapai tujuh ribuan. Ekspansi perbankan dan lembaga penjamin keuangan, lembaga jasa, properti, hotel dan berbagai aktivitas bisnis yang kesemuanya menggeliat dan tumbuh demikian subur menggambarkan Kab. Bulukumba yang memiliki potensi dan keunggulan baik komparatif maupun kompetitif untuk berinvestasi.
Salah satu kunci mengapa Bulukumba memiliki keunggulan tersebut adalah karena potensinya dan minat berinvestasi yang cukup besar.
Tumbuhnya minat berinvestasi tentulah menjanjikan prospek yang lebih baik bagi pesatnya pertumbuhan ekonomi Bulukumba kedepan, oleh karena tidak akan maju sebuah daerah tanpa investasi.
Salah satu contoh, hadirnya Rice Processing Compleks (RPC) Pabrik Penggilingan Beras Modern Milik PT. Mega Zanur Prima sebagai salah satu investasi yang diklaim akan menjadi yang terbesar di Indonesia Timur, serta rencana pembangunan Mall dari bendera perusahaan yang sama, untuk membangun salah satu pusat Bisnis tentu memberi harapan yang semakin besar dan semakin menasbihkan Bulukumba sebagai pasar bagi Investor.
Mungkin ada kekhawatiran dikalangan tertentu bahwa hadirnya sejumlah investasi besar ini akan melemahkan posisi para pelaku ekonomi kecil. Kekhawatiran ini tentu bisa dimengerti. Tapi fakta mengatakan bahwa di setiap daerah atau kota yang maju kehadiran Industri dan Super Market justru adalah merupakan keharusan oleh karena keberadaanya sudah menjadi bagian dari kemajuan sebuah daerah atau kota.
Untuk lebih maju kedepan, masyarakat Bulukumba harus bisa berfikir realistis bahwa daerah ini butuh investor, karena bagaimanapun sebuah investasi usaha, khususnya yang berskala besar pasti akan membuka kesempatan bagi banyak orang (baca : tenaga kerja produktif) untuk terserap kedalamnya, otomatis akan mengurangi pengangguran. Masyarakat bisa kreatif untuk membuat produk industri atau kerajinan serta makanan untuk dijual dan pasti akan banyak terjadi transaksi, otomatis akan terjadi perputaran uang yang cukup besar.
Pemerintah daerah juga tentu memiliki kesempatan untuk meraih sumber pendapatan daerah, baik dari hasil pajak maupun retribusi daerah yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas layanan publik. Karenanya, investasi penting untuk mendorong akselerasi pembangunan. Untuk Bulukumba maju dan sejahtera, salah satu solusinya adalah menyambut hadirnya Investasi dengan tangan terbuka dan kesiapan untuk berkompetisi secara sehat.(sumber : http://www.rca-fm.com/2011/05/)
Jumat, 29 April 2011
SMA Bonto Bahari Bulukumba, Malang Nian Nasibmu Kini........

Angin perubahan yang dihembuskan pemerintahan baru Kabupaten Bulukumba dalam rentang waktu lima bulan terakhir, diakui, Direktur eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkar Sulawesi-Selatan, Fadly Syarif, telah begitu banyak menciptakan nuansa baru dalam kehidupan keseharian masyarakat di daerah berjuluk Butta Panrita Lopi itu.
Kendati demikian, dia tetap berharap, kiranya Pemerintah Kabupaten Bulukumba tidak terlalu prematur dalam menetapkan indikator sebuah keberhasilan. Adapun, keberhasilan yang telah berhasil diukir selama ini, baru sebatas langkah permulaan dan belum memberikan arti apa-apa terhadap masyarakat, atau dengan kata lain, pemerintahan baru, Butta Panrita Lopi baru seumur jagung.
Dalam artian, Pemerintah Kabupaten Bulukumba memerlukan ketersediaan stamina yang maksimal untuk dapat menuntaskan sederetan pekerjaan rumah yang menanti jauh di depan sana. Sebut saja diantaranya, persoalan masih relatif minimnya ketersediaan sarana prasarana gedung pendidikan yang memadai di lingkungan SMU Bontobahari.
Sebuah sekolah, yang dari awal pendiriannya hingga sekarang, sama sekali belum pernah tersentuh perhatian pemerintah. Terbukti, sekolah menengah atas yang berada di ujung selatan, ibukota Kabupaten Bulukumba ini, masih tampak sangat memprihatinkan, dengan kondisinya yang tidak melebihi bangunan kandang kambing.
Bahkan, di kala musim penghujan tiba, para siswa tak jarang harus mengikuti proses belajar mengajar (PBM,red), di tengah genangan banjir yang merendam halaman sekolah, dan ruang kelas belajar mereka. Dalam suasa seperti itu, para siswa juga harus rela mengikuti jam pelajaran dengan bertelanjang kaki, alias alias tanpa sepatu.
Oleh karenanya, Pemkab Bulukumba jangan sesekali pernah bermimpi, untuk bisa menghasilkan jebolan siswa berkualitas dan bermutu dari lingkungan SMA Bonto Bahari, ujar putra Bulukumba Kelahiran Bonto Kamase ini dengan nada sedih.
Fadly berharap, semoga gambaran realita dan potret buram dunia pendidikan Kabupaten Bulukumba yang sengaja dipersembahkannya menjelang Peringatan Hari Pendidikan Nasional di pertengahan tahun 2011 ini, dapat mengetuk pintu hati dan nurani, para pejabat di lingkungan birokrat Kabupaten Bulukumba, untuk sejenak melirikkan pandangannya ke SMA Bonto Bahari.
Sungguhpun tak dapat dipungkirinya, bahwa, dari sekian banyak gedung sekolah yang terdapat di Kabupaten Bulukumba, hampir 80 % diantaranya, terpantau dalam kondisi rusak parah, dan sangat tidak layak untuk dijadikan sebagai ruang belajar mengajar. Semisal, sekolah dasar dan Mts yang terletak di Kelurahan Kasimpureng, termasuk didalamnya, Sekolah Dasar di kawasan Pasir Putih Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba. (*)
Warga Tersinggung, Asrul Mau Beli Kantor Bupati Bulukumba

Polisi Bulukumba mengamankan Asrul (39), warga Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Asrul diduga sebagai pemicu keributan pada proses lelang kendaraan dinas di lingkup Pemkab Bulukumba.
Ia ditangkap karena mengeluarkan pernyataan yang memicu terjadinya kericuhan. "Biarpun semua mobil yang dilelang ini termasuk kantor bupati yang semegah ini saya beli jika mau," katanya.
Mendengar teriakan itu sejumlah peserta ikut lelang lainnya tersinggung dan spontan melakukan aksi pemukulan kepada Asrul. Beruntung aksi itu tidak berbuntut panjang karena polisi bersama aparat TNI AD setempat cepat mengamankannya. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
Laman
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2011
(11)
-
▼
Mei
(9)
-
▼
Mei 16
(8)
- Bira Tuan Rumah Penyelenggaraan Festival Phinisi 2010
- Menelisik Objek Wisata Kabupaten Bulukumba
- Sejarah Singkat Bulukumba
- Mengenali Kabupaten Bulukumba
- 5,6 Miliar Anggaran Pembangunan Sarana Air Minum U...
- Warga Bontobahari Tetap Blokir Jalan
- Pemkab Bulukumba Rencanakan Pembangunan Mall
- Lagu 'Phinisi Nusantara' Riza Usman Perkenalkan Le...
-
▼
Mei 16
(8)
-
▼
Mei
(9)