Rabu, 18 Agustus 2010

240 KK Terisolasi, Bantuan Pemkab Bulukumba Belum Tiba


Sekitar 240 kepala keluarga di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, masih terisolasi pascalongsor sejak 12 hari lalu.
"Warga di tiga dusun di Kecamatan Kindang itu masih terisolasi, karena akses jalan masih terputus, sementara alat-alat berat yang dikerahkan kesulitan untuk mengangkat material longsoran," kata Kepala Bidang Bantuan Kesejahteraan Masyarakat Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bulukumba Muh Nawali, Sabtu (22/05/2010).
Ia mengatakan untuk mengirim bantuan ke lokasi tersebut pihaknya membutuhkan data yang akurat dari pemerintah setempat khususnya dari kepala desa dan camat di tiga dusun yang dilanda bencana longsor.
"Namun sampai saat ini kami masih menunggu laporan dari tiga dusun itu, yakni Gamaccayya, Kahyya, dan Pa'buakkang di kaki Gunung Bawakaraeng," katanya.
Sementara itu, akibat belum lancarnya akses jalan di lokasi tersebut, tidak menutup kemungkinan warga di Kecamatan Kindang khususnya di tiga dusun itu akan kekurangan makanan.

Gubernur Pertimbangkan Permintaan Pemkab Bulukumba


Harapan Pemkab Bulukumba memperoleh bantuan dana pembiayaan pemilukada putaran kedua dari Pemprov Sulsel tampaknya sulit terwujud. Pemkab Bulukumba diminta mengupayakan terlebih dahulu penyediaan anggarannya.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, sebelum Pemkab Bulukumba mengajukan permintaan bantuan dana pemilukada, seharusnya KPU yang terlebih dahulu meminta. Mekanisme ini diperlukan agar anggaran yang dibutuhkan jelas.
"Pada prinsipnya, semua harus berjalan dan pemilukada putaran kedua terlaksana. Tapi harus berproses dahulu di daerah sebelum mengajukan permintaan dana," katanya, Senin, 26 Juli.
Proses pengusulan anggaran pelaksanaan pemilukada putaran kedua seharusnya melalui tahapan permintaan alokasi dana melalui pembahasan dengan DPRD. "Jadi sebelum mereka meminta sebaiknya berproses dahulu di kabupaten," ujarnya.
Pemkab Bulukumba berencana meminta bantuan anggaran pemilukada putaran kedua ke Pemprov Sulsel berdasarkan pertimbangan Permendagri Nomor 44 Tahun 2007. Pemerintah daerah dibolehkan meminta anggaran pemilukada ke gubernur.
Meskipun membutuhkan dana untuk membiayai pemilukada, Pemkab Bulukumba tetap tidak dapat berharap penuh bantuan dari Pemprov Sulsel. Permintaan bantuan dana itu hanya sebatas usulan. (rif)

Pariwisata Bulukumba

Kawasan Adat Ammatoa
Keindahan alam berupa kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budava masyarakat dengan pola hidupyang jauh dari dunia modern. Ciri masyarakat yang ada di Desa Tana Toa yang tampat sehari¬-hari yaitu pakaian dengan warna serba hitam. Untuk ciri bangunan rumah seragam menghadap ke utara. Dalam kawasan ini bergelar Amma Toa dengan masa kepemimpinan seumur hidup.
Lokasi : Desa Tana Toa Kecamatan Kajang + 56 km dari kota Bulukumba.
Fasilitas : Tempat penerimaan tamu
TANA BERU (Tempat Pembuatan Kapal Phinisi)
Tana beru dikenal sebagai tempat pembuatan perahu/kapal tradisional, di tempat ini anda akan merasa kagum melihat kepiawaian masyarakat membuat kapal/perahu tradisional dengan konstruksi kayu dan peralatan tradisional pula.
Lokasi : Pesisir pantai Kelurahan Tana Beru + 24 km dari Kota Bulukumba.
Fasilitas : Mudah dijangkau
Pantai Tanjung Bira
Disepanjang pantai terhampar pasir putih yang bening dan halus. Selain menikmati pantai pasir putih pengunjung juga dapat menikmati keindahan 2 (dua) pulau yang ada didepannya yaitu pulau Liukang loe pulau Kambing (tidak berpenhuni) dan pada latarnya tampak membumbung tinggi gunung-Puang Janggo dengan ketinggian melebihi 400 meter.
Lokasi : Kecamatan Bonto Bahari + 45 km dari Kota Bulukumba.
Fasilitas : Penginapan, hotel, rumah makan, restoran, wartel dan tempat parkir
Kebiasaan suku kajang berpakaian serba hitam
Masyarakat Kajang dikenal dengan kebiasaan menggunakan pakaian serba hitam didalam kehidupan sehari-hari. Mereka dalam struktur sosialnya dibentuk oleh seorang pemimpin yang dikenal dengan nama ammatoa yang dipilih berdasarkan petunjuk alami dari serangkaian ritual magic. Praktek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh ajaran yang meyakini awal kehidupan adalah kegelapan.
Ritual persiapan pembuatan Kapal Phinisi
Punggawa dalam memimpin pengikutnya yang ahli, betul-betul paham akan tipe dan situasi dari pada alam jauh sebelum menetapkan perencanaan pembuatan perahu yang didahului kekuatan magic, keseluruhan ritual dilakukan sebagai simbol dari pada spirit dan atas perkenaan dewa-dewa untuk kematangan persiapan pembuatan perahu, tahap pembuatan sampai kepada peluncuran phinisi kelaut lepas. Masyarakat yang menggantungkan kehidupannya kepada pembuatan dan penggunaanperahu phinisi disebut suku Konjo yang masih dipengaruhi oleh budaya bugis dan Makassar namun namun mereka memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Konjo.
Pembuatan kapal phinisi dengan cara tradisional
Ahli kapal phinisi membentuk kapal phinisi secara tradisional. Pembuatan secara tradisional terdiri atas beberapa langkah yang didasarkan dari petunjuk pimpinan mereka yang disebut Punggawa. Orang yang diyakini sebagai pengawas dunia phinisi. dimana dalam pembuatan kapal tersebut tidak memerlukan banyak teori, semata-mata perkiraan dan pengalaman saja.
Keahlian pembuatan kapal dengan kayu
Tanah baru adalah suatu pusat pembuatan kapal phinisi yang penuh dengan sejarah maritim bagi masyarakat Makassar. Pusat pembuatan perahu ini berasal dari tulang punggung jaman kerajaan Majapahit di Jawa dan dimuat dalam puisi Jawa pada abad empatbelas. Perahu tradisional ini telah menjelajahi samudra dengan keganasan ombaknya baik Indonesia maupun diluar negeri seperti Madagaskar (Afrika). Menurut sejarah perkapalan masyarakat Makassar, phinisi adalah salah satunya perahu yang tidak pernah keram yang selalu diyakini sebagai seorang manusia yang hidup dan selalu peduli akan keselamatan.

Bulukumba Gelar Festival Phinisi 2010

Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan kembali menggelar Festival Phinisi 2010. Kegiatan pariwisata berskala nasional itu di pusatkan di Tanjung Bira Bulukumba, dilaksanakan 5-9 Oktober 2010, kata Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Periwisata Bulukumba, Hj Andi Pamenery di Bulukumba, Jumat.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bulukumba akan menggelar sejumlah kegiatan untuk mendukung kegiatan Festival Phinisi 2010, antara lain, Bulukumba tourism expo, penganugerahan gelar adat kepada pejabat Kementerian kebudayaan dan pariwisata serta Pemprov Sulsel, lomba pembuatan miniatur phinisi, proses peluncuran perahu phinisi, pagelaran seni dan budaya Bulukumba, serta pesta nelayan.
Pihaknya, katanya, telah melakukan berbagai persiapan. Sejumlah daerah tetangga akan diundang untuk turut menghadiri kegiatan tersebut.
Festival Phinisi 2010 merupakan ajang promosi dan sosialisasi tentang prospek dan potensi budaya dan pariwisata di bumi Panritalopi Bulukumba.
Dia berharap, agar masyarakat mendukung kegiatan tersebut. Festival Phinisi 2010 rencananya akan dijadikan kalender tahunan Pemkab Bulukumba.

Depbudpar Kampanye Sadar Wisata di Bulukumba


Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) melakukan kampanye Sadar Wisata dan Sapta Pesona di Kawasan Wisata Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut dihadiri para pengusaha, masyarakat umum, para pejabat dari daerah tetangga seperti Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, Sinjai dan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7).
Tidak hanya itu, penyelenggara juga menghadirkan beberapa selebriti dari Jakarta di antaranya Dwi Yan, Hengki Tornando, dan Laksmi AFI.
Dipilihnya Tanjung Bira Bulukumba sebagai event Program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata karena kawasan ini sudah cukup dikenal baik di dalam negeri maupun mancanegara.
Kampanye sadar wisata dan sapta pesona wisata Depbudpar RI di Bulukumba berlangsung meriah. Direktur Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar, Bakri, juga hadir dalam acara tersebut.
Bakri berharap ke depan Tanjung Bira bisa lebih baik dalam memberikan layanan, baik dari segi keamanan maupun kenyamanan terhadap para wisatawan.
Saat ini Depbudpar telah menetapkan 15 propinsi unggulan termasuk Sulawesi-Selatan. Untuk Sulsel sendiri, menurut Bakri, ditetapkan Kabupaten Bulukumba dengan Tanjung Bira-nya.
"Kampanye sadar wisata dan sapta pesona ini diharapkan terus berlanjut dan diharapkan bisa berdampak positif serta lebih menguntungkan terhadap prospek pariwisata bagi masyarakat dan daerah ini," ujarnya.
Selain itu, Depbudpar juga akan terus mengembangkan desa-desa wisata melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata (PMP). Pemkab Bulukumba menyambut baik event kampanye sadar wisata di kawasan wisata Tanjung Bira.
Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali, mengatakan event nasional yang digelar di Tanjung Bira ini akan sangat menguntungkan perkembangan pariwisata di Bulukumba.
Sementara itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Suaib Mallombassi, mengatakan tugas pemerintah hanya sebagai fasilitator, bukan pelaku utama dalam sektor pariwisata. Jika objek wisata mau berkembang dengan baik, maka masyarakat harus berperan aktif.
"Asosiasi perlu dibentuk agar dapat berperan dalam menunjang sektor wisata seperti kerajinan, kuliner, dan seni yang menampilkan budaya lokal," ujarnya.

Pelatihan Perencanaan Partisipatif Bulukumba

Sebuah pelatihan perencanaa partisipatif baru-baru ini diadakan di Bulukmba yang diikuti oleh oleh 60 orang peserta yang berasal dari 12 kelompok tani hutan calon pengelola hutan kemasyarakatan di kawasan hutan Anrang, Bangkengbukit dan Lompobattang. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari (18-20 Februaru 2010) tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota KTH sehingga mampu memahami dan merumuskan analisis kebutuhan kelompok yang berbasis pada potensi dan kebutuhan serta mampu menyusun rencana kelompok secara partisipatif termasuk rencana Monev
Narasumber yang dihadirkan pada pelatihan ini adalah Ir. A Misbahwati MM yang merupakan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bulukumba
Pengelolaan hutan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.37/2007 adalah dilakukan oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok tani hutan. Tujuan dari diberikannnya hak pengelolaan hutan kepada masyarakat setempat adalah untuk memberdayakan mereka sehingga mereka mampu mengelola hutan dengan baik dan memberikan manfaat ekologi dan ekonomi. Pemberdayaan itu sendiri adalah suatu proses menumbuhkembangkan kemandirian masyarakat agar mampu menyelesaikan masalahnya dan memenuhi kebutuhan mereka sendiri yang didasari atas sikap kritis dan partisipatif.

Potret Keterbelakangan Pembangunan Bulukumba Sebuah Renungan Jelang Pilkada 2010


Sekali waktu, ketika aku bertandang ke Kabupaten Bulukumba dan berkeliling di daerah berpredikat Butta Panrita Lopi itu, ingin rasanya, kumeneteskan air mata. Utamanya, dikala kusadari betapa Bulukumba sangat jauh mengalami keterbelakangan pembangunan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Terbukti, hampir 80 persen sekolah dasar yang sempat aku kunjungi, kondisi sarana prasarananya terlihat begitu memprihatinkan. Dimana, hampir semua sekolah tersebut, sama sekali, nyaris tak tersentuh perhatian pemerintah kabupaten.
Hal ini diperkuat dengan ungkapan Kepala Sekolah SDN 198 Bira, Hj. Andi Fatimah, S.Pd yang menyatakan "bahwa sejak dibangunnya, pada tahun 1975 silam, SD ini, baru sekali waktu mendapat kucuran anggaran rehabilitasi bangunan kelas. Sehingga adalah hal yang sangat wajar, bila beberapa bagian perumahan di sekolah tersebut masih tampak sangat memprihatinkan.
Fakta lain diungkapkan Anye Haerani, Puteri bulukumba asal Tanete yang turut menyatakan keprihatinan mendalam melihat kondisi kekinian Kabupaten Bulukumba. Terlebih lagi, ketika memperhatikan kondisi infrastruktur Kabupaten Bulukumba yang dianggap perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah kabupaten.
Pasalnya, dari sisi SDM, orang bulukumba termasuk cukup disegani dan diakui. Tetapi, akan lebih bagus lagi, ketika sarana dan prasarana sekolah, terutama yang berada di wilayah pedesaan dapat segera dibenahi. Dimana hal ini, tentunya sangat diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi yang lebih matang dan berkompeten di daratan Butta Panrita Lopi dalam kurun waktu beberapa puluh tahun kedepan.
Potret keterbelakangan pembangunan Bulukumba serasa kian lengkap, dengan kian maraknya bangunan pemukiman warga miskin berkesan kumuh di daerah yang terletak di penghujung selatan Provinsi Sulawesi-Selatan itu. Sepertihalnya, yang banyak terlihat di wilayah Kelurahan Kasimpureng.
Penderitaan rakyat miskin Kabupaten Bulukumba, serasa kian sempurna, tatkala musim penghujan tiba, pada saat pemukiman mereka harus terendam genangan air hujan. Sebagai dampaknya, potensi penyakit kulitpun semakin dekat dengan rakyat miskin terpinggirkan di wilayah Kecamatan Ujung Bulu. Peristiwa meninggalnya seorang balita perempuan penderita gizi buruk, pada tanggal 29 Januari 2009 dari Kelurahan Kasimpureng lagi-lagi menjadi sebuah realita tak terbantahkan, akan tingginya jumlah ralyat miskin di daerah ini. Balita pemilik berat 6,3 kilogram tersebut menghembuskan nafas terakhirnya, setelah sebelumnya, dia sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Andi Sulthan Dg Radja, Kabupaten Bulukumba, lantaran kekurangan asupan gizi dari orangtua. Menurut dr. Bambang Haryanto Sp.A, hal ini disebabkan, faktor ekonomi keluarga.

Laman

Pengikut